Selasa, 20 Januari 2015

Review Jurnal



Halo bloggers! Ketemu lagi nih di post saya kali ini hehe... Hari ini saya berkeinginan untuk membuat post tentang review jurnal yang waktu itu diberikan oleh dosen filsafat saya.
Pengaruh Bullying Terhadap Motivasi
Belajar Siswa Kelas VII di SMPN 31 Samarinda

1.1  Latar Belakang

Saya memilih jurnal dengan judul “Pengaruh Bullying Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII Di SMPN 31 Samarinda” karena saya pernah menjadi salah satu korban bullying semasa saya SMP dahulu. Dan dari situlah saya terinspirasi untuk mencari jurnal ini. Selain itu saya juga mempunyai adik yang berada di jenjang SMP. Saya ingin melihat adakah hubungannya antara cara belajarnya di rumah dengan pergaulannya di sekolah.

Review Jurnal

1. Identitas Jurnal

Judul     : Pengaruh Bullying Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VII Di SMPN 31 Samarinda
Penulis : Puspa Amrina

2.    Ringkasan Jurnal

2.1  Pendahuluan

Program pendidikan wajib belajar di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1950. Dalam UU nomor 4 tahun 1950 jo UU nomor 12 tahun 1954 telah ditetapkan bahwa setiap anak usia 8-14 tahunterkcna pendidikan wajib belajar. Namur program pendidikan wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah belum dapat berialan sebagaimana mestinya, karena adanya pergolakan pohtik secara tetus-menerus. (A. Daliman, 1995:138). Namun, suatu budaya telah tercipta diantara para pelajar yaitu Bullying. Banyak faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku bullying. Quiroz dkk (2006; dalam Anesty, 2009) mengemukakan sedikitnya terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan perilaku bullying, yaitu terpengaruh oleh lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, dan pengaruh media sosial. Bullying biasanya dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelasnya atau lebih tepatnya dari senior ke junior.
Hal ini dilakukan dengan alasan yang dibuat buat hanya untuk membela apa yang akan mereka lakukan. Seperti contoh mereka akan memberi alasan untuk membentuk mental junior yang akan menjadi anggota OSIS agar bekerja walaupun berada di bawah tekanan. Karena bullying, pengaruh negative pun muncul seperti karena OSIS itu identik dengan rapat dan memakan waktu setelah pulang sekolah, secara tidak langsung siswa akan pulang hampir larut malam karena segan meminta izin untuk pulang lebih awal kepada seniornya. Karena hal tersebut, ketika sampai di rumah siswa tersebut merasa letih dan langsung beranjak ke kasur untuk tidur. Padahal besoknya siswa tersebut ada ulangan dan tidak sempat belajar sehingga nilainya pun menurun.
Inilah alasan mengapa perilaku bullying merupakan penghambat besar bagi seorang siswa untuk mengaktualisasikan diri dan dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Karena situasi, suasana internal dan eksternal dalam suatu sekolah yang membedakannya dengan sekolah lain dan mempengaruhi perilaku orang-orang di dalamnya, menurut Hoy dan Miskel (dalam Rovai dkk, 2005).

2.2  Permasalahan

Adakah pengaruh bullying terhadap motivasi belajar siswa?

2.3 Tinjauan Pustaka

A. Motivasi Belajar

Menurut Pintrich (2003) Kata motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere, yang berarti bergerak (move). Motivasi menjelaskan apa yang membuat orang melakukan sesuatu, membuat mereka tetap melakukannya, dan membantu mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas.
motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang memiliki motivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama menurut Santrock (2007)
Dalam kegiatan belajar, motivasi bisa dianalogikan sebagai penggerak untuk kita melakukan atau mempelajari sesuatu sehingga subjek yang dipelajari dapat tercapai. Siswa yang mempunyai motivasi belajar akan berfokus kepada apa yang akan dilakukan dan apa manfaat yang bisa diambil serta proses seperti apa yang akan dijalani.

1.     Aspek- Aspek Motivasi Belajar

Yang dikemukakan oleh Santrock (2007) ada dua aspek. Yaitu :
·       Motivasi Ekstrinsik :
Melakukan sesuatu untuk mendapatkan balasan imbalan yang berupa reinforcement negative maupun reinforcement positive.
·       Motivasi Instrinsik :
Terdapat dua motivasi Instrinsik, berupa :
Ø  Motivasi intrinsik berdasarkan determinasi diri dan pilihan personal. Hal ini terjadi atas dasar kemauan dari diri sendiri.
Ø  Motivasi intrinsik berdasarkan pengalaman optimal. Terjadi ketika seseorang merasa dalam keadaan konsentrasi yang tinggi sehingga dalam pengerjaannya tidak merasa terlalu sulit.

2.     Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Menurut Hutagalung (2005) ada dua factor yang mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu :
·       Faktor internal :
Keterampilan, pengalaman masa lampau, aspirasi atau harapan masa depan.
·       Faktor eksternal :
Tuntutan kepentingan keluarga, kehidupan kelompok atau sosial, lingkungan.

3.     Prinsip- Prinsip Motivasi Belajar

Prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran menurut Keller (dalam Suciati, 2006), disebut sebagai model ARCS, yaitu :
·       Attention (perhatian); muncul karena keingintahuan.
·        Relevance (relevansi); adanya korelasi antara materi dan interpretasi.
·       Confidence (percaya diri); merasa kompeten atau mampu.
·       Satisfaction (kepuasan); keberhasilan akan mencapai kepuasan.

B.  Perilaku Bullying

Menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok  yang memiliki kekuasaan, terhadap orang lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Perilaku bullying ada lima kategori, yaitu :
·       Kontak fisik langsung; berupa pukulan, tendangan, dll.
·       Kontak verbal langsung; mencacimaki orang tersebut.
·       Non-verbal langsung; menatap sinis, menjulurkan lidah, dll.
·       Non-verbal tidak langsung; mendiamkan sesorang, memanipulasi persahabatan.
·       Pelecehan seksual; pemerkosaan.

1.    Karakteristik Korban

ciri-ciri yang terkait dengan korban itu antara lain:
o   Anak baru di lingkungan itu.
o   Anak termuda atau paling kecil di sekolah.
o   Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena rasa takut.
o   Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan.
o   Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain.

2.    Karakteristik Pelaku

Ciri- ciri yang terkait dengan perilaku itu antara lain :
o   Suka mendominasi anak lain.
o   Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
o   Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.
o   Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau peduli dengan perasaan anak lain.
o   Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa lainnya tidak ada di sekitar mereka.

C. Pengaruh Perilaku Bullying Terhadap Motivasi Belajar Siswa

Perilaku  bullying yang terjadi di lingkungan sekolah berdampak pada tidak adanya rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying merasa takut dan terintimidasi, rendah diri serta tak berharga, sulit berkonsentrasi dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, enggan bersekolah, pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi, sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam merosot. Mungkin pula, para korban bullying akan kehilangan rasa percaya diri kepada lingkungan yang banyak menyakiti dirinya (Yayasan SEJIWA, 2008).

Metode Penelitian

A.    Subjek Penelitian

Siswa siswi kelas VII SMPN 31 Samarinda tahun ajaran 2012/2013

B.    Metode Pengumpulan Data

alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa angket tertutup (kuesioner). Angket tertutup merupakan angket yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
Pada angket penelitian ini menggunakan skala Likert yang merupakan pengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena social Jenis pernyataan skala  Likert ada dua macam, yaitu pernyataan positif dengan skor 4, 3, 2, 1 dan pernyataan negatif dengan skor 1, 2, 3, 4.

C. Metode Analisis Data

Analisis data menggunakan tehnik analisis Correlation Product Moment melalui media alat analisis SPSS (Statistical Packade for Sosial Science) 13 for Window.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Karakteristik Responden

Individu yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 siswa kelas VII, adapun  karakteristik sampel berdasarkan kelas pada SMPN 31 Samarinda yakni pada siswa kelas VII berjumlah 100 siswa dengan persentase kelas VIIA sejumlah 32 persen, kelas VIIB sejumlah 35 persen dan kelas VIIC sejumlah 33 persen.

 

Hasil Uji Asumsi

a.      Hasil Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji asumsi normalitas menggunakan teknik statistik non parametrik one sample Kolmogrov-Smirnov. Kaidah yang digunakan adalah jika p > 0.05 maka sebarannya normal, sebaliknya jika p < 0.05 maka sebarannya tidak normal (Hadi, 2000). Maka dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil uji normalitas pada tabel 16 dibawah ini :
Hasil Uji Normalitas dapat ditafsirkan sebagai berikut:
1)      Hasil uji normalitas sebaran terhadap variabel motivasi belajar menghasilkan nilai Z= 0.829 dan p= 0.497 (p>0.05). Hasil uji berdasarkan kaidah menunjukkan sebaran butir-butir motivasi belajar adalah normal.
2)      Hasil uji asumsi normalitas sebaran terhadap variabel Bullying menghasilkan nilai Z = 0.639 dan p = 0.808 (p>0.05). Hasil uji berdasarkan kaidah menunjukkan sebaran butir-butir bullying adalah normal.


b.      Hasil Uji Linearitas

Uji asumsi linearitas dilakukan untuk mengetahui linearitas hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Uji linearitas dapat pula untuk mengetahui taraf penyimpangan dari linearitas hubungan tersebut. Adapun kaidah yang digunakan dalam uji linearitas hubungan adalah bila nilai linearity p < 0.05 maka hubungan dinyatakan linear, atau apabila nilai deviant from linearity p > 0.05 maka hubunngan dinyatakan linear.
Hasil uji asumsi linieritas antara motivasi belajar dan bullying mempunyai nilai deviant from linearity F= 1.319 dan p= 0.172< 0.05 yang berarti hubungannya dinyatakan linier.

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh perilaku bullying terhadap motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil deskriptif data diperoleh bahwa mean empiric motivasi belajar siswa sebesar 83.21 lebih rendah dari mean hipotetik 65.00. Sedangkan hasil analisis deskriptif data perilaku bullying sebesar 70.86 lebih rendah dari mean hipotetik 80.00. Apabila mean empiric lebih tinggi dari mean hipotetik maka dapat dikatakan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya siswa SMP Negeri 31 Samarinda mendapatkan bullying dan motivasi belajar tetap tinggi.  Dari hasil pengisian skala penelitian menunjukkan bahwa rata-rata siswa memiliki tingkat bullying sedang atau sekitar 39.00% dengan tingkat motivasi belajar sedang atau sekitar 40.00%.

Simpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian kali ini yaitu hipotesis yang diajukan oleh peneliti ditolak dengan demikian, tidak terdapat pengaruh perilaku bullying terhadap motivasi belajar.



Saran

                  Materi yang disampaikan sudah cukup informatif dan sangat membuka wawasan, namun terlalu banyak pengulangan kata dan dari narasumber yang berbeda- beda. Walaupun baik untuk mempunyai referensi yang banyak, namun ketika berlebihan akan membuat pembaca akan cepat bosan bahkan kehilangan minat untuk melanjutkan membaca jurnal tersebut.





Jurnalistik LOTS

Halo bloggers!
Akhirnya saya nge-post lagi nih hehe..

Kami mendapatkan tugas dari Romo Carolus selaku dosen filsafat untuk melakukan jurnalistik. Saya sangat tertarik dengan tugas ini karena jujur saja saya senang sekali membuat video. Akhirnya, tim saya yang beranggotakan Zahra, Dhita, Jason pun berunding kira kira acara apa yang ingin kami buat jurnalistiknya. Setelah berunding, akhirnya kami menggunakan ide dari Zahra untuk meliput Local Trade Society Carnival (LOTS) yang belangsung di Plaza Senayan. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mulai tanggal 5- 7 Desember ini berisikan seperti bazar di segala bidang aspek. mulai dari jualan makanan, bisnis, fashion, property, live music, dan masih banyak lagi.

Dalam pelaksanaan tugas ini terdapat suka duka. Sukanya adalah kita menjelajah hal hal yang unik, dan hanya diadakan sehatun sekali. Terdapat makanan yang saya belum tau sebelumnya. Dukanya hanya karena cuaca yang kurang mendukung, acara yang berlangsung secara outdoor ini pun tidak sebanyak ekspetasi saya. Namun acara ini sangat worth it untuk dikunjungi..

Yang saya pelajari dari jurnalistik ini adalah bagaimana kita bekerjasama dan menyusun waktu untuk mengerjakan tugas ini memang tidak mudah, tapi berhasil untuk menangani hal tersebut. Yang paling saya acungi jempol dari kelompok saya adalah semangat untuk bekerja sama. Satu pengalaman lagi yang membuat saya keluar dari "comfort zone" saya dan lebih membuka diri kepada orang lain.

Nah, sekian dulu dari saya ya bloggers! sampai bertemu di post saya yang berikutnya! :D

Jumat, 16 Januari 2015

Delapan Kesalahpahaman Umum Tentang Karya Tulis Psikologi

Halo teman teman, maaf ya saya baru bisa update blog lagi.. terlalu asik liburan sih hehe..
kali ini saya mendapatkan tugas dari dosen filsafat yaitu Romo Carolus untuk menterjemahkan dan meringkas satu bab dari 13 bab yang terdapat pada buku "The Psychologist's Companion". akhirnya yang saya pilih adalah bab pertama tentang 8 kesalahan umum yang dilakukan dalam membuat tulisan. Semoga membantu dan memberi pehamahaman yang baik! :D


Delapan Kesalahpahaman Umum
Tentang Karya Tulis Psikologi
Pelajar dan penulis yang tidak berpengalaman sering kali mengalami kesalahpahaman tentang proses menulis dan karakteristik karya tulis yang baik sehingga membuat mereka tidak bisa menulis sebagus yang seharusnya mereka bisa. Ada delapan kesalahpahaman umum yang harus kamu hindari bahkan sebelum kamu mulai menulis :
    1.     Menulis karya ilmiah psikolohi adalah hal yang paling rutin, kurang kreatif dalam aspek    ilmiah, membutuhkan banyak waktu, namun imajinasi yang sedikit. Banyak murid yang kehilangan minat dalam penelitian mereka ketika disuruh untuk menulis tentang mereka. Hal yang mereka minati adalah membuat rencana dan membuat penemuan baru, bukannya mengkomunikasikan apa yang telah ada. Kesalahan besar diyakini mendasari perilaku mereka. Letak kesalahannya adalah ketika proses penemuan berakhir saat proses komunikasi dimulai. Meskipun tujuan utama karya ilmiah adalah untuk mengkomunikasikan apa yang anda pikirkan kepada orang lain, hal tersebut juga membantu anda untuk menyusun dan mengorganisasi pikiran anda. Melaporkan temuan anda dalam penulisan membutuhkan kommitmen anda untuk temuan anda dan cara anda menginterpretasikannya. Hal tersebut akan membuat ana menjadi orang yang lebih kritis daripada orang lain. Kita terkadang berfikir bahwa kita tahu apa yang ingin kita katakan, tapi kita mencari waktu untuk mengatakannya, dan saat kita mampu untuk menyampaikannya. Sama halnya seperti topik. Terkadang kita membiarkan pikiran kita diisi oleh suatu celah yang kita tidak sadari. Namun, celah tersebut bisa Nampak lebih jelas. Hal itu terjadi ketika kita menulis ide yang kita pikirkan sehingga kita tau apa hal yang kurang untuk melengkapi ide yang telah kita tuliskan tersebut.

2.     Hal yang terpenting adalah apa yang kamu sampaikan, bukan apa yang kamu ingin sampaikan. Sebagai mahasiswa, dosen kebingungan bahwa mahasiswa yang tulisannya konsisten dan rapih mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang tulisannya kurang rapih. Bahkan dalam komposisi sendiri, ia menemukan bahwa nilai yang ia terima tampak kurang mencerminkan dari apa yang sebenarnya ia ingin katakan. Pada saat itu ia tidak bisa menentukan bahwa nilai yang ia dapat merupakan jawaban yang sesuai dengan apa yang disampaikan oleh professor atau dari kemampuan kepemahaman mereka tentang materi tersebut. Sebagai professor mahasiswa, penulis utama menemukan rahasia dibalik penilaian. Terdapat dua frase. Frase pertama terjadi ketika dosen memiliki jumlah mahasiswa yang banyak dan memiliki waktu yang sedikit untuk membaca tugas mahasiswa.  Dosen sangat berterima kasih kepada mahasiswa ang tulisannya rapih karena ia bisa membaca cepat dan memahami apa yang ditulis tanpa harus membaca pelan pelan seperti apa yang ditulis oleh mahasiswa yang tulisannya tidak rapih. Frase kedua adalah ia memiliki sedikit tugas untuk di koreksi, dan memiliki waktu luang untuk memeriksa. Sekarang, ia bisa bertindak adil kepada mahasiswa yang tulisannya rapih maupun tidak.
3.     Lebih panjang kertas, lebih bagus. Lebih banyak kertas, lebih baik. Sampai tahun pertama mengajar, dosen berkata bahwa makalah yang lebih tebal adalah makalah yang lebih baik. Sampai pada akhirnya, pandangan tersebut diubah. Penilaian bukan hanya berdasarkan jumlah halaman makalah saja, namun juga kualitas ide. Ia menemukan korelasi antara topic dengan pengembangan makalah. Ada yang makalahnya jumlah halamannya banyak karena memang banyak hal yang harus dibahas, ada juga yang halamannya banyak agar bisa mengungkapkan apa yang ingin di sampaikan.

4.     Tujuan utama dari makalah psikologi adalah sensasi pra fakta, apakah baru didirikan (seperti dalam laporan hasil eksperimen) atau mapan (seperti dalam tinjauan pustaka). Kesalahpahaman yang umum di kalangan masyarakat adalah bahwa tujuan ilmu pengetahuan adalah akumulasi fakta. Kesalahpahaman ini didorong oleh penulisan ilmiah populer yang menekankan temuan-temuan ilmiah, yang mungkin mudah untuk menggambarkan, dengan mengorbankan penjelasan dari yang mereka temukan, yang mungkin beragam dan sulit untuk dijelaskan. Makalah yang anda buat harus dipandu oleh ide-ide dari anda dan sudut pandang anda. Fakta disajikan dalam pelayanan ide: untuk membantu menjelaskan, mendukung, atau menulis ulang ide-ide anda. Mereka memberikan tes dikompensasi dengan validitas ide dapat diukur. Oleh karena itu Anda harus memilih fakta-fakta yang membantu memperjelas atau menguji sudut pandang Anda dan menghilangkan fakta yang tidak relevan. Dalam menjadi selektif, Anda harus tidak hanya memilih fakta-fakta yang mendukung posisi Anda. Anda diminta untuk benar benar jujur. Tanpa kejujuran, komunikasi saintifik dapat runtuh.

5.     Perbedaan antara penulisan ilmiah, di satu sisi, iklan atau propaganda, di sisi lain, tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk menginformasikan maksud dari iklan atau propaganda adalah untuk membujuk. Iklan yang berhasil atau propaganda hanya digunakan untuk mengajak. Penulis biasanya percaya bahwa tulisan saintifik yang sukses adalah tulisan yang hanya memberitahukan kepada pembaca tentang sintifik tersebut dan cara interpretasinya. Pembaca kemudian dibiarkan untuk memutuskan apakah teori tersebut masuk akal atau tidak. Konsepsi penulisan ilmiah tidak benar. Ketika saintis membuat makalah, Ketika para ilmuwan menulis makalah, mereka memiliki produk untuk dijual. Produk ini adalah set mereka tentang mengapa fenomena tertentu ada. Sukses atau tidaknya para ilmuwan ditentukan oleh seberapa berhasilnya mereka untuk membujuk orang untuk membeli produk tersebut. Salah satu kesalahan paling umum penulis adalah dalam menjual produk yang salah: Mereka salah menilai kontribusi pekerjaan mereka. Kami baru saja menerima sebuah makalah yang  baik penuh dengan ide-ide yang asli. Satu-satunya masalah utama dengan kertas adalah bahwa pembahasan ide-ide asli diringkas menjadi satu paragraf ditujukan untuk menarik perhatian di tengah kertas, sedangkan hasil diskusi ide orang lain  berskisar 10 halaman,
Berdasarkan pengalaman penjualan buku psikologi, soft selling lebih menguntungkan dibandingkan hard selling.
 6.   Cara baik untuk membuat orang untuk menyetujui teori anda adalah dengan cara menjatuhkan teori orang lain. Dalam retrospeksi, resensi mungkin memiliki beberapa poin yang valid, tapi kami percaya dia bereaksi berlebihan. Dalam makalah kami telah meninjau yang menyerang pekerjaan kami, kami mungkin telah bereaksi berlebihan juga. Para ilmuwan memiliki reputasinya di kalangan masyarakat umum untuk menjadi pencari obyektif dan evaluator esensial impar- kebenaran. Kami pikir reputasi ini umumnya layak, tetapi hanya ketika datang ke pekerjaan masing-masing. Ketika datang ke pekerjaan mereka sendiri, para ilmuwan kehilangan objektivitas mereka. Ketika para ilmuwan diserang, mereka berperilaku dalam banyak cara yang sama seperti orang lain diserang. Ketika seseorang Menekuk lutut pada Anda dengan kepalan terbang ke arah wajah Anda, Anda tidak berhenti untuk merenungkan berbagai pertimbangan yang mungkin telah menyebabkan lawan untuk menyerang Anda. Anda serangan balik. Karena para ilmuwan secara pribadi begitu terlibat dalam pekerjaan mereka, mereka sering memperlakukan serangan terhadap pekerjaan mereka sebagai serangan pribadi, bahkan jika tidak ada dasar rasional untuk mengobati seperti itu. Hasilnya bisa menjadi konfrontasi pribadi di mana isu-isu ilmiah ditempatkan di bagian belakang kompor.
Kesimpulannya, adalah untuk menekankan kontribusi positif makalah Anda. Ini tidak berarti bahwa Anda harus melupakan mengkritik teori lain. Kritik tersebut mungkin penting untuk  Anda. Hindari pernyataan yang dapat diartikan sebagai kontroversial tapi kurang substansi.
7.     Hasil negatif yang gagal untuk mendukung hipotesis peneliti sangat berarti walaupun kecil, sama halnya seperti kecilnya hasil yang positif. Karena ilmu pengetahuan adalah permainan yang adil, ilmuwan menang beberapa dan kehilangan beberapa. Siswa sering percaya bahwa tindakan jujur adalah tindakan bagi para ilmuwan untuk melaporkan kerugian mereka serta kemenangan mereka. Untuk melakukan sebaliknya tampaknya akan menyajikan gambaran palsu dari kedua ilmuwan dan keadaan alam.
Setelah membaca contoh beragam artikel jurnal, pembaca pasti akan tiba di salah satu dari dua kesimpulan - baik ilmuwan memiliki intuisi secara luar biasa suara tentang cara eksperimen akan berubah, atau mereka mempertahankan lemari penuh hasil eksperimen yang gagal dan tidak dilaporkan. Meskipun para ilmuwan biasanya memiliki setidaknya cukup suara intuisi tentang bagaimana percobaan akan berubah, keadaan jurnal lebih merupakan cerminan dari lemari yang lengkap daripada intuisi tepat. Perhatikan tiga penjelasan menarik seperti:

1.     Imbalan yang lemah: reward yang digunakan dalam penelitian ini tidak membuktikan insentifitas yang cukup kuat. Jika diberikan hadiah, misalnya pada anak. Anak tersebut tidak ingin belajar hanya karena diberi satu kacang.


2.     Ukuran sampel yang digunakan terlalu kecil: Sampel anak mungkin belum cukup besar. Ini adalah aturan yang terkenal dari statistik itu, jika ada efek pengobatan, jika dari hasil sampel yang kecil terlihat hasil yang positif, berarti dari sampel yang besar pun dapat dikatakan hal yang sama.

3.     Inadequate measures: ukuran pembelajaran mungkin mempengaruhi/memadai. Anggaplah, misalnya, bahwa tugas ini adalah untuk mempelajari seperangkat fakta perkalian untuk nomor satu digit dan bahwa ukuran belajar adalah fakta perkalian tunggal. Ini pasti mungkin-langkah akan memadai untuk mendeteksi belajar pada kedua kelompok dan karenanya perbedaan dalam belajar antara kelompok.


8.    Perkembangan logis dari ide-ide dalam makalah psikologi mencerminkan sejarah perkembangan ide-ide di dalam kepala psikolog. Mengapa penelitian yang disampaikan oleh artikel jurnal tidak sesuai kenyataan yang ada? Terdapat tiga alasan :
1. keterbatasan ruang: Jurnal beroperasi di bawah ruang Keterbatasan parah. Sebagian besar artikel diserahkan ke jurnal harus ditolak karena kurangnya ruang. Dalam beberapa jurnal, lebih dari 90% dari artikel yang diajukan ditolak. Pasal-pasal yang diterima harus tepat dan ringkas mungkin. Sebuah "otobiografi" bentuk presentasi, menjelaskan awal yang salah semua salah awal, mengkonsumsi banyak ruang. Ruang yang lebih dikhususkan untuk artikel lain.
2. Khasiat presentasi: Sebuah account otobiografi dari percobaan cenderung lebih menarik bagi diri sendiri daripada rekan satu. Asosiasi menceritakan kepada kami cara di mana dia belajar pelajaran ini. Dia menyerahkan sebuah artikel teoritis 20-halaman ke salah satu jurnal psikologi paling bergengsi. Ia menghabiskan pertama 19 halaman dari artikel yang menjelaskan bagaimana ia datang ke kesimpulan setelah serangkaian panjang awal yang salah; ia menyajikan kesimpulan terakhirnya pada halaman 20. Artikel itu ditolak, bukan karena kesimpulan akhir yang salah, tetapi karena editor percaya bahwa hanya ada satu halaman diterbitkan dalam artikel - yang terakhir. Editor tertarik kesimpulan yang psikolog tetapi tidak dalam jiwa panjang mencari psikolog yang telah dilakukan untuk sampai pada mereka.
3. Fokus pada fenomena: Objek deskripsi dalam sebuah laporan ilmiah yang merupakan fenomena dan penjelasannya, bukan wartawan dari fenomena dan penjelasan. Fokus dari laporan harus mencerminkan fakta ini.
Sering ada garis tipis antara kelalaian informasi otobiografi dan penghilangan detail yang kritis. Jika hipotesis adalah posthoc, maka salah satu wajib untuk menunjukkan fakta ini.
Singkatnya, langkah-langkah yang berikut dalam perencanaan dan melaksanakan penelitian tidak rapi sesuai dengan bagian berurutan dari kertas psikologi.

Mitos
1. Para ilmuwan mulai dengan ide-ide tentang fenomena, dimana mereka menjelaskan dalam pendahuluan makalah. Ide-ide ini diformulasikan sebelum ilmuwan telah mengumpulkan data; data berfungsi untuk mengkonfirmasi (atau dalam kasus yang jarang disconfirm) keabsahannya.
2. Para ilmuwan menguji ide-ide ini dengan hati-hati memilih variabel yang dapat dimanipulasi dalam percobaan terkontrol. Pemahaman para ilmuwan dari fenomena di bawah observasi dan metode ilmiah memungkinkan mereka untuk memilih variabel yang benar dan manipulasi eksperimental pada upaya pertama mereka, yang mereka gambarkan dalam "Metode" dari makalah.
3. Para ilmuwan melakukan percobaan, menyajikan dalam "Hasil" bagian makalah mereka hasil data analisis cermat direncanakan terlebih dahulu.
4. Para ilmuwan akhirnya merefleksikan implikasi yang lebih luas dari hasil, menyajikan refleksi mereka dalam "Diskusi" bagian dari makalah.

    Realita
1. Sebelum melakukan percobaan, yang biasanya hanya memiliki gagasan yang tidak jelas dan tentatif tentang apa hasilnya. Jika hanya karena ada begitu banyak kemungkinan hasil. Ide sesorang berkembang bersama dengan percobaan yang dilakukan.
2.  Kadang-kadang melakukan manipulasi eksperimental yang tepat pada variabel atau manipulasi eksperimental pada variabel yang tepat. Untuk menghindari pemborosan sumber tenaga, ilmuwan sering melakukan percobaan dengan skala kecil yang menguji kelayakan percobaan. Penyesuaian kemudian dapat dibuat untuk percobaan skala penuh, atau percobaan dapat dihapus sama sekali.
3. Analisis data yang besar biasanya direncanakan terlebih dahulu, perencanaan yang diperlukan untuk memastikan bahwa desain percobaan memungkinkan seseorang untuk menganalisis data dengan cara yang paling menguntungkan. Analisis data yang kecil sering memutuskan setelah pengumpulan data. Seringkali hasil analisis data yang direncanakan akan menyarankan salah satu yang tidak direncanakan berikutnya. Sebuah himpunan data dapat dianalisis dalam jumlah tak terbatas cara, beberapa dari mereka lebih mengungkapkan dari orang lain. Ilmuwan harus memilih sejumlah kecil cara yang mungkin untuk menghasilkan hasil yang maksimal.
4. Gagasan untuk bagian Diskusi kertas biasanya mulai membentuk pada saat percobaan, tidak hanya setelah selesai percobaan. Alasan untuk ini adalah bahwa jika percobaan memiliki beberapa implikasi yang berpotensi luas dan menarik, atau terdapat hal yang menyebabkan beberapa langkah berikutnya tidak masuk akal dalam penelitian, hal ini mungkin tidak layak dilakukan lagi.





Gambar 1.1 Tampilan Buku